Di Jepang, perempuan yang kehilangan pasangan karena meninggal dunia cenderung menjalani hidup tanpa menikah lagi. Data kependudukan Jepang menunjukkan bahwa peluang menikah kembali pada perempuan jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, dan kecenderungan tersebut semakin terlihat ketika usia bertambah. Jadi, anggapan bahwa janda di Jepang pasti akan sulit mendapatkan pasangan sebenarnya tidak sesederhana itu. Ada faktor usia, keluarga, ekonomi, hingga perubahan pandangan masyarakat terhadap pernikahan. Bahkan, penelitian mengenai pola pernikahan di Jepang menemukan bahwa kemungkinan menikah kembali memang menurun pada kelompok yang memasuki status lajang karena perceraian maupun kehilangan pasangan.
Mengapa Banyak Pria Jepang Menolak Menikahi Janda?
1. Pertimbangan anak dari pernikahan sebelumnya. Salah satu hal yang bisa menjadi pertimbangan pria Jepang adalah ketika seorang janda sudah memiliki anak. Menikahi seorang janda bukan hanya berarti membangun hubungan dengan pasangan, tetapi juga harus siap menerima kehidupan keluarga yang sudah terbentuk sebelumnya. Bagi sebagian pria, tanggung jawab tersebut dianggap cukup besar, terutama jika mereka belum pernah menikah.
2. Perbedaan usia dan rencana hidup. Banyak kasus janda terjadi pada usia yang lebih matang. Sementara itu, sebagian pria yang belum menikah mungkin masih mencari pasangan dengan rencana hidup yang berbeda, misalnya ingin memiliki anak atau membangun keluarga dari awal. Perbedaan tujuan tersebut dapat membuat hubungan menjadi lebih sulit.
3. Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi. Pernikahan di Jepang juga semakin dipengaruhi pertimbangan ekonomi. Survei terhadap masyarakat Jepang menunjukkan bahwa masalah keuangan menjadi salah satu hambatan penting dalam keputusan menikah. Dalam survei Nippon Foundation terhadap 6.000 orang usia 15–45 tahun, 45% responden yang sebenarnya ingin menikah tetapi merasa tidak akan menikah menyebut kurang percaya diri secara ekonomi sebagai salah satu alasannya.
4. Pria Jepang sendiri semakin banyak memilih hidup sendiri. Menariknya, persoalan ini sebenarnya bukan hanya tentang janda. Banyak pria Jepang memang semakin lama semakin nyaman menjalani kehidupan tanpa pasangan. Survei terhadap warga Jepang lajang usia 20–49 tahun menemukan bahwa 34,1% responden mengaku belum pernah memiliki hubungan romantis. Di kalangan pria Jepang usia 20-an, angkanya bahkan mencapai 46%.
Fakta menarik lainnya adalah masyarakat Jepang saat ini sedang menghadapi perubahan besar dalam cara memandang pernikahan. Dalam survei terhadap 3.935 orang Jepang yang belum menikah, 46% masih memiliki keinginan untuk menikah, tetapi hanya 27% yang merasa mereka benar-benar akan menikah. Bahkan, pada kelompok usia 36–45 tahun, lebih dari separuh responden merasa kemungkinan mereka tidak menikah semakin besar. Alasan tidak menikah pun cukup unik: 40% mengatakan lebih cocok hidup sendiri, 33% merasa tidak menemukan manfaat pernikahan, dan 29% ingin lebih memprioritaskan kehidupan pribadi.
Jadi, anggapan bahwa pria Jepang secara khusus “menolak janda” sebaiknya tidak dianggap sebagai fakta mutlak. Fenomena tersebut lebih tepat dilihat sebagai bagian dari perubahan besar kehidupan sosial Jepang. Ketika pernikahan semakin dianggap sebagai pilihan pribadi, status janda bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang mendapatkan pasangan atau tidak. Usia, anak, kondisi ekonomi, kesempatan bertemu pasangan, serta keinginan untuk hidup mandiri justru memiliki peran yang tidak kalah besar.