Kalau ngomongin Korea Selatan, yang biasanya langsung kepikiran adalah K-Pop, drama Korea, teknologi canggih, sampai kota Seoul yang kelihatan modern banget. Tapi di balik kehidupan yang terlihat maju dan serba cepat itu, ada persoalan sosial yang cukup serius, yaitu tingginya angka bunuh diri. Bahkan, Korea Selatan masih menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di antara negara-negara OECD. Data OECD terbaru menunjukkan angka bunuh diri Korea sekitar 23 kematian per 100.000 penduduk, lebih dari dua kali rata-rata OECD yang sekitar 11 per 100.000. Jadi, sebenarnya apa yang membuat masalah ini cukup berat di Korea Selatan?
Beberapa alasan unik mengapa tingkat bunuh diri di Korea Selatan cukup tinggi:
1. Tekanan pendidikan yang luar biasa
Sejak kecil, banyak anak Korea Selatan sudah menghadapi persaingan akademik yang ketat. Masuk universitas bagus sering dianggap sebagai jalan menuju pekerjaan dan masa depan yang lebih baik. Akibatnya, tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi bisa terasa sangat besar. OECD juga menyebut tekanan akademik sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya masalah bunuh diri pada anak muda Korea.
2. Budaya kerja dan persaingan yang ketat
Kehidupan di Korea Selatan terkenal cepat dan kompetitif. Dunia kerja, pendapatan, status sosial, hingga kepemilikan rumah bisa menjadi sumber tekanan. Bagi sebagian orang, ketika merasa tertinggal dari orang lain, tekanan tersebut dapat semakin berat.
3. Masalah kesepian dan isolasi sosial
Menariknya, negara yang penduduknya padat ternyata juga menghadapi masalah kesepian. OECD mencatat bahwa hubungan sosial pada kelompok lansia Korea relatif lemah. Hanya sekitar 61% pria dan 65% wanita Korea berusia 70 tahun ke atas yang mengatakan mereka mempunyai seseorang yang dapat diandalkan ketika membutuhkan bantuan, jauh di bawah rata-rata OECD.
4. Tekanan sosial untuk terlihat sukses
Di tengah budaya yang sangat kompetitif, kegagalan terkadang bisa terasa seperti sesuatu yang memalukan. Ditambah lagi dengan media sosial yang membuat orang terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Akhirnya, seseorang bisa terlihat baik-baik saja dari luar, padahal sebenarnya sedang mengalami tekanan berat.
5. Lansia juga menjadi kelompok yang sangat rentan
Masalahnya bukan cuma anak muda. Risiko bunuh diri di Korea juga meningkat seiring bertambahnya usia, khususnya pada pria. Faktor seperti kesepian, masalah ekonomi, kehilangan pasangan, serta berkurangnya hubungan sosial dapat membuat sebagian lansia semakin rentan. OECD bahkan menyoroti persoalan “lonely deaths”, yaitu orang yang meninggal sendirian dan baru ditemukan setelah beberapa waktu.
Ada beberapa fakta yang cukup mengejutkan. Korea Selatan memang sudah berhasil menurunkan angka bunuh diri secara keseluruhan dibandingkan masa lalu, tetapi masalahnya belum selesai. Yang justru bikin khawatir adalah tren pada anak dan remaja. Menurut OECD, antara 2000 dan 2024, angka bunuh diri anak usia 10–14 tahun di Korea meningkat hampir empat kali lipat, dari 0,8 menjadi 3,5 per 100.000. Sementara pada usia 15–19 tahun, angkanya meningkat dari 6,3 menjadi 12,6 per 100.000. Bunuh diri bahkan telah menjadi penyebab kematian utama bagi anak muda Korea sejak 2012. Fakta lainnya, masalah ini juga tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental secara individu. Tekanan sekolah, konflik keluarga, pengalaman buruk sejak kecil, perundungan online, tuntutan sosial, kesulitan ekonomi, dan kesepian dapat saling berhubungan. Jadi, melihat angka bunuh diri Korea Selatan hanya dari satu penyebab jelas terlalu sederhana.
Pada akhirnya, tingginya angka bunuh diri di Korea Selatan menjadi pengingat bahwa negara yang terlihat maju, kaya, dan modern tetap bisa menghadapi masalah sosial yang serius. Kehidupan yang terlihat sempurna dari luar belum tentu menggambarkan kondisi seseorang yang sebenarnya. Karena itu, mengurangi tekanan sosial, memperkuat hubungan antarorang, membuat bantuan kesehatan mental lebih mudah diakses, dan menghilangkan stigma terhadap orang yang sedang kesulitan menjadi bagian penting dari solusi. Korea Selatan sudah menjalankan berbagai program pencegahan, tetapi tantangannya masih panjang.